MARQUEE

KRU SEUMANGAT WELLCOME PEU HABA RAKAN

VISITOR

Flag Counter

Wednesday, 6 July 2016

Gambaran Faktor- Faktor Yang Mampengaruhi Ketidak efektifan Komunikasi Terapeutik Dengan Pasien Pada Mahasiswa Akademi Keperawatan

Gambaran Faktor- Faktor Yang Mampengaruhi Ketidak efektifan Komunikasi Terapeutik Dengan Pasien Pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012
ABSTRAK
Latar belakang Komunikasi terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan terapeutik antara perawat-pasien. Dalam proses komunikasi terjadi penyampaian informasi yang dapat digunakan sebagai alat yang efektif dalam memberi asuhan keperawatan pada pasien. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan  secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
Faktor yang mempengaruhi dalam berkomunikasi terapeutik terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal. faktor internal meliputi komunikator dalam hal ini perawat dan komunikannya adalah pasien. Faktor komunikator meliputi: pendidikan, lama bekerja, pengetahuan, sikap, kondisi psikologis. Faktor komunikan adalah : perkembangan, kondisi, stress hospitalisasi. Faktor eksternal meliputi; 1)sistem sosial, 2)saluran, 3)lingkungan.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk Mengetahui bagaimana gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan komunikasi terapeutik pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012.
Penelitian ini bersifat deskriptif, subjek penelitiannya adalah mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintahan Kabupaten Pidie dengan menggunakan cluster sampling yaitu 75 responden, pengumpulan data dengan membagikan kuesioner kepada responden, adapun hasil penelitian ini di buat dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
Hasil penelitian dan pengolahan data didapatkan bahwa gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan komunikasi terapeutik pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012 mempunyai pengetahuan katagori rendah sebanyak 40 responden (53,3%) sikap positif sebanyak 59 responden (78.7%) dan kesadaran diri yang tinggi sebanyak  56 responden (74.7%).
Kesimpulannya bahwa pengetahuan mahasiswa berada pada katagori rendah, melihat kenyataan diatas disarankan kepada Institusi Pendidikan, khususnya DIII Keperawatan adalah dengan memasukan program praktek komunikasi terapeutik dalam kegiatan pembelajaran praktikum sehingga setelah menyelesaikan pendidikan, mahasiswa mampu mengaplikasikan komunikasi terapeutik dalam praktek keperawatan.
Daftar pustaka             : 14 buku (2002-2011) + 3 internet
Kata kunci                   : pengetahuan, sikap, kesadaran diri
xii + 42 halaman + 3 tabel + 5 gambar + 8 lampiran

BAB I
PENDAHULUAN


A.        Latar Belakang
            Dalam setiap aspek kehidupan mereka yang mampu berkomunikasi dengan baik akan mendapat keberhasilan baik dalam kehidupan sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari suatu komunitas. Keberhasilan misi sebuah lembaga keperawatan kesehatan sangat ditentukan oleh keluwesan berkomunikasi setiap personel yang merupakan motor penggerak orgasisasi. Lembaga yang dalam operasinya bergerak dalam bidang keperawatan kesehatan senantiasa berhubungan dengan berbagai perilaku pasien yang berkepentingan dengan jasa perawatan yang di kelolanya (Mahmud Macfoedz,2009).
Pasien sebuah rumah sakit terdiri dari anak-anak, orang dewasa, dan mereka yang berusia lanjut yang berasal dari berbagai strata kehidupan dan aneka latar belakang pendidikan dan kehidupan dalam masyarakat. Untuk dapat berhubungan dengan baik dengan mereka diperlukan teori, pengetahuan dan pengalaman berkomunikasi yang memadai (Mahmud Macfoedz,2009).
Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar manusia. Pada profesi keperawatan komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan metode utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan (Purba,2003).
            Komunikasi terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan terapeutik antara perawat-pasien. Dalam proses komunikasi terjadi penyampaian informasi yang dapat digunakan sebagai alat yang efektif dalam memberi asuhan keperawatan pada pasien.      
            Komunikasi dalam keperawatan disebut komunikasi terapeutik, yakni komunikasi yang bermuatan terapi untuk penyembuhan pasien. Tingkat usia pasien mulai dari lima tahun sampai yang berusia lanjut memerlukan perlakuan dan gaya berkomunikasi yang berbeda-beda (Mahmud Macfoedz,2009).
Dalam pelayanan asuhan keperawatan, komunikasi terapeutik memegang peranan penting untuk membantu pasien memecahkan masalahnya. Untuk mewujudkan terlaksananya komunikasi terapeutik secara efektif diperlukan adanya kemauan dan kesadaran diri yang tinggi dari perawat. Perawat harus mampu menciptakan kondisi (keterpercayaan) yang dapat menimbulkan adanya rasa percaya pasien terhadap perawat, pasien merasa diperhatikan, diterima, merasa aman, nyaman (deskripsi) merasa diikutsertakan dalam setiap tindakan yang akan dilakukan untuknya (orientasi masalah) pelayanan yang diberikan perawat dirasakan tulus, tidak dengan paksaan (spontanitas) informasi yang dibutuhkan pasien harus jelas (kejelasan) pasien merasa perawat dapat membantu mengurangi hal-hal yang mengganggu pikirannya dalam menghadapi penyakitnya dan tanpa memandang siapa pasien tersebut (persamaan) sehingga pasien merasa puas (Purba, 2003).
Kemampuan komunikasi yang baik dari perawat merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam melaksanakan proses keperawatan. Kemampuan komunikasi sangat mempengaruhi kelengkapan data pasien. Untuk itu selain perlunya meningkatkan kemampuan komunikasi perawat, kemampuan komunikasi pasien juga perlu ditingkatkan. Perawat perlu mengetahui hambatan, kelemahan dan gaya pasien dalam berkomunikasi. Perawat perlu memperhatikan budaya yang mempengaruhi kapan dan dimana komunikasi dilakukan, penggunaan bahasa, usia dan perkembangan pasien (Mundakir,2006).
Kelemahan dalam komunikasi merupakan masalah serius baik bagi perawat maupun pasien. Perawat yang enggan berkomunikasi dengan menunjukkan raut wajah yang tegang akan berdampak serius bagi pasien. Pasien akan merasa tidak nyaman bahkan terancam dengan sikap perawat atau tenaga kesehatan lainnya. Kondisi ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan pasien. Dalam berkomunikasi dengan pasien, pesan yang disampaikan kadang disalah tafsirkan, terutama ketika menjelaskan tujuan terapi dan kondisi pasien. Seorang perawat yang menyampaikan pesan dengan kata-kata yang tidak dimengerti dan penyampaian yang terlalu cepat akan mempengaruhi penerimaan pasien terhadap pesan yang diberikan (Mundakir,2006).
Penggunaan komunikasi terapeutik perlu memerhatikan pengetahuan, sikap, dan cara berkomunikasi (Budi Anna Keliat,1994).
Penelitian Jonhson yang dikutip Stuart and Sundeen (1989) menyebutkan bahwa hubungan terapeutik dapat meningkatkan keterbukaan antara perawat dan pasien sehingga dapat menurunkan kecemasan. Pengalaman ilmu untuk menolong sesama memerlukan kemampuan khusus dan kepedulian sosial yang besar (Abdalati,1989).
Dalam praktek keperawatan, komunikasi adalah suatu alat yang penting untuk membina hubungan terapeutik dan dapat mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatan. Lebih jauh, komunikasi sangat penting karena  dapat mempengaruhi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan. Disisi lain, penyebab sumber ketidakpuasan pasien sering disebabkan karena jeleknya komunikasi yang terjadi dengan pasien. Oleh karena itu pengukuran kepuasan pasien terhadap komunikasi terapeutik perawat akan bermanfaat dalam memonitor dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya untuk meningkatkan pelayanan keperawatan (Purba,2003).
Faktor yang mempengaruhi dalam berkomunikasi terapeutik terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal. faktor internal meliputi komunikator dalam hal ini perawat dan komunikannya adalah pasien. Faktor komunikator meliputi: pendidikan, lama bekerja, pengetahuan, sikap, kondisi psikologis. Faktor komunikan adalah : perkembangan, kondisi, stress hospitalisasi. Faktor eksternal meliputi; 1)sistem sosial, 2)saluran, 3)lingkungan (Aziz Alimul hidayats,2008).
            Dari banyak kasus yang ditemukan, pada umumnya perawat atau Mahasiswa  praktek  hanya  akan  masuk  ke kamar  pasien hanya untuk mengganti infus, merawat luka, memberikan suntikan, memberikan obat dan menunggu apabila  ada  panggilan  dari  pasien  atau  keluarga  pasien. Dari  kasus  tersebut terlihat bahwa  interaksi  komunikasi  yang  dilakukan  perawat  dan  Mahasiswa  praktek  dengan  pasien  bisa  dikatakan  minim (http://ksh.co.id/newsDetail.php?ksh=2&do=30).
            Terdapat 3 fase yang perlu perawat dan Mahasiswa terapkan saat melakukan komunikasi terapeutik dengan pasien. Ketiga fase tersebut adalah fase orientasi, fase kerja, dan fase terminasi dimana dari hasil penelitian yang tidak dipublikasikan pada tahun 2005 membuktikan kemampuan Mahasiswa menerapkan ketiga fase tersebut terhadap pasien. Dalam fase orientasi kemampuan komunikasi Mahasiswa dalam menghadapi pasien berada pada tingkat rendah yaitu 53,3%, pada fase kerja  atau lanjutan 46,7% sedangkan pada fase terminasi 50%. Sedangkan kemampuan Mahasiswa dalam menerapkan teknik komunikasi terapeutik terhadap pasien anak berada pada persentase 50%, dan kemampuan Mahasiswa dalam melakukan komunikasi dengan orangtua anak berada pada tingkat 48,3%. (Rochana,2005)
Menurut pengamatan saat peneliti melakukan praktek di RSU Sigli masih ada sebagian perawat dan Mahasiswa praktek yang tidak berkomunikasi dengan baik kepada pasien saat menjalin hubungan.
Berdasarkan data dari Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie jumlah Mahasiswa tahun 2009/2010 195 orang, tahun 2010/2011 97 orang dan tahun 2011/2012 150 orang. Jadi, keseluruhannya 442 orang (Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie,2012).
Berdasarkan hasil survey awal dari 15 Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie yang dilakukan pada tanggal 5 Mei 2012 di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie terhadap pengetahuan, sikap dan kesadaran diri Mahasiswa dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasien, 10 Mahasiswa kurang memahami dengan baik tentang komunikasi terapeutik dengan pasien, dan 5 Mahasiswa memahami dengan baik tentang komunikasi terapeutik dengan pasien, 11 Mahasiswa memiliki sikap yang positif dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasien, dan 4 Mahasiswa memiliki sikap yang negatif dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasien, 9 Mahasiswa memiliki kesadaran diri yang rendah dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasien dan 6 Mahasiswa memiliki kesadaran diri yang tinggi dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasien. Hal tersebut menunjukkan masih kurangnya pengetahuan, sikap dan kesadaran diri  Mahasiswa dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasien di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie (Hasil survey,2012).
Menurut Aziz Alimul hidayat (2008) Semakin bagus pengetahuan yang dimiliki, seseorang semakin mudah menerima informasi sehingga penggunaan komunikasi terapeutik akan semakin efektif, begitu juga dengan sikap dalam berkomunikasi akan mempengaruhi keefektifan proses komunikasi, sikap yang kurang baik akan menyebabkan pendengar kurang percaya terhadap komunikator. Sedangkan menurut Purba (2003) untuk mencapai komunikasi yang efektif seorang perawat dipengaruhi oleh kemauan dan kesadaran diri yang tinggi. Perawat bisa berkomunikasi dengan baik bila mempunyai kesadaran diri yang baik (Mahmud Machfuedz,2009).
Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketidakefektifan Komunikasi Terapeutik Dengan Pasien Pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012”.

B.         Rumusan  Masalah
Berdasarkan Uraian diatas, maka peneliti ingin mengetahui bagaimanakah gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan komunikasi terapeutik pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012.

C.        Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
            Mengetahui bagaimana gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan komunikasi terapeutik pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012.

2.      Tujuan Khusus
a.       Mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi  ketidakefektifan komunikasi terapeutik pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012 ditinjau dari pengetahuan Mahasiswa.
b.      Mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi  ketidakefektifan komunikasi terapeutik pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012 ditinjau dari sikap Mahasiswa.
c.       Mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi  ketidakefektifan komunikasi terapeutik pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012 ditinjau dari kesadaran diri Mahasiswa.

D.        Mamfaat Penelitian
1.      Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan wawasan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu komunikasi terapeutik serta melatih penulis dalam mengembangkan pengetahuan berfikir secara objektif dan menjadi bahan untuk penelitian lebih lanjut.
2.      Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menjadi referensi untuk dapat memberi informasi khususnya mengenai faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan dalam komunikasi terapeutik dengan pasien serta dimamfaatkan dan menambah pembendaharaan perpustakaan yang ada.
3.      Bagi Mahasiswa
a.       Diharapkan Mahasiswa mempunyai pengetahuan komunikasi terapeutik yang baik, sehingga berusaha selalu meningkatkan hubungan terapeutik dengan pasien.
b.      Dapat mengetahui apa saja yang mempengaruhi komunikasi terapeutik.
4.      Bagi peneliti yang akan datang
Dapat dijadikan pedoman untuk peneliti lebih lanjut terutama yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan dalam komunikasi terapeutik dengan pasien.

E.         Ruang Lingkup Penelitian
            Tempat yang akan dijadikan penelitian adalah kampus Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie, yang akan direncanakan mulai bulan Juni 2012. Dan penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup materi keperawatan.

F.         Sistematikan Penulisan
Mempermudah pembahasan dan pengetahuan dari penulisan ini, penulis  mencoba     menguraikan    gambaran    secara    sistematis    penulisan    Karya Tulis Ilmiah dibagi dalam 6 (enam) bab yaitu :
BAB I :        Pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II :       Tinjauan pustaka meliputi komunikasi terapeutik, pengetahuan, sikap, kesadaran diri dan kerangka teoritis.
BAB III :     Kerangka konsep penelitian meliputi kerangka konsep penelitian, variabel dan definisi operasional, dan cara pengukuran variabel.
BAB IV :     Metode penelitian meliputi jenis penelitian, lokasi, waktu, populasi dan sampel, tehnik pengumpulan data,  instrument penelitian, pengolahan data, analisa data dan penyajian data.
BAB V :    Hasil penelitian dan pembahasan meliputi gambaran umum lokasi   penelitian, hasil penelitian dan pembahasan.
BAB VI :     Penutup meliputi kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A.    Komunikasi Terapeutik
1.      Pengertian Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan  secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Indrawati,2003).
Northouse (1998) menyatakan bahwa, “komunikasi terapeutik adalah kemampuan atau keterampilan perawat untuk membantu pasien beradaptasi terhadap stress, mengenai gangguan psikologis, dan belajar bagaimana berhubungan dengan orang lain”. Sedangkan Stuart G.W. (1998) menyatakan bahwa, “komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara perawat dengan pasien memperoleh pengalaman belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional pasien”. Hibdon,S. (2000) menyatakan bahwa pendekatan konseling yang memungkinkan pasien menemukan siapa dirinya merupakan fokus dari komunikasi terapeutik.
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi interpersonal adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati,2003).
Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan professional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani,2002).

2.      Manfaat Komunikasi Terapeutik
Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Mengidentifikasi, mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat (Indrawati,2003).
           
3.      Tujuan Komunikasi Terapeutik (Indrawati,2003).
Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat dan pasien. Bila perawat tidak memperhatikan hal ini, hubungan perawat dan pasien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik  yang mempercepat kesembuhan pasien, tetapi hubungan sosial biasa.
Menurut Stuart dan Sundeen juga Lindberg, Hunter, dan Kruszweski (dikutip dari hamid, 1996), tujuan terapeutik yang diarahkan pada pertumbuhan pasien meliputi :
a)      Meningkatkan tingkat kemandirian pasien melalui proses realisasi diri, penerimaan diri dan hormat terhadap diri sendiri
b)      Identitas diri yang jelas dan rasa integritas yang tinggi
c)      Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling tergantung dan mencintai
d)     Meningkatkan kesejahteraan pasien dengan peningkatan fungsi dan kemampuan yang memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistis.

4.      Jenis Komunikasi Terapeutik
Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993) dalam Purba (2003), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik.
Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) dalam Purba (2003) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.

5.      Karakteristik Komunikasi Terapeutik
Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi terapeutik yaitu sebagai berikut (Arwani,2002):
  1. Ikhlas (Genuiness)
Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien harus bisa diterima dan pendekatan individu dengan verbal maupun non verbal akan memberikan bantuan kepada pasien untuk mengkomunikasikan kondisinya secara tepat.
  1. Empati (Empathy)
Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien. Obyektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak berlebihan.
  1. Hangat (Warmth)
Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan diharapkan pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide-idenya tanpa rasa takut, sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam.

6.      Fase-fase dalam komunikasi terapeutik
a.   Orientasi (Orientation)
Pada fase ini hubungan yang terjadi masih dangkal dan komunikasi yang terjadi bersifat penggalian informasi antara perawat dan pasien. Fase ini dicirikan oleh lima kegiatan pokok yaitu testing, building trust, identification of problems and goals, clarification of roles dan contract formation (pengujian, membangun kepercayaan, identifikasi gol dan permasalahan, klarifikasi peran dan formasi kontrak).
b.   Kerja (Working)
Pada fase ini perawat dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan pada fase orientasi. Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan. Fase ini terdiri dari dua kegiatan pokok yaitu menyatukan proses komunikasi dengan tindakan perawatan dan membangun suasana yang mendukung untuk proses perubahan.
d.      Penyelesaian (Termination)
Pada fase ini perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan telah dicapai, agar tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling menguntungkan dan memuaskan. Kegiatan pada fase ini adalah penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan (Arwani,2002).

7.      Faktor - Faktor Penghambat Komunikasi (Indrawati, 2003)
Faktor-faktor yang menghambat komunikasi terapeutik adalah:
a.       Perkembangan yaitu orang yang memiliki perkembangan yang kurang baik akan kesulitan melakukan komunikasi.
b.      Persepsi yaitu pendapat yang disampaikan belum tentu dapat diterima
c.       Nilai yaitu isi pesan yang disampaikan belum tentu dapat diterima oleh orang lain.
d.      Latar belakang sosial budaya yaitu perbedaan kelas contohnya seorang petani dengan pengusaha.
e.       Emosi yaitu orang yang dalam keadaan emosi tidak akan mampu berkomunikasi dengan baik.
f.       Jenis kelamin yaitu komunikasi yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan akan mempengaruhi komunikasi.
g.      Pelaksanaan yaitu orang yang memiliki pelaksanaan kurang baik biasanya akan menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan keadaan dimana komunikasi dilakukan.
h.      Peran dan hubungan yaitu komunikasi yang dilakukan antara pimpinan dengan bawahan atau guru dengan muridnya.
i.        Lingkungan tempat komunikasi berlangsung terlalu bising sehingga pesan yang di sampaikan tidak jelas.
j.        Jarak saat melakukan komunikasi.
k.      Citra diri atau rasa percaya diri saat melakukan komunikasi.
l.        Kondisi fisik keadaan fisik sehat atau sakit saat melakukan komunikasi.

8.      Tahapan Dalam Komunikasi Terapeutik
Dalam komunikasi terapeutik dilakukan secara bertahap yaitu:
a)      Tahap pra interaksi
Pra interaksi dimulai sebelum kontak pertama dengan pasien. Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan oleh perawat adalah:
-          Mengumpulkan data tentang pasien 
-          Mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan diri 
-          Membuat rencana pertemuan dengan pasien
b)      Tahap perkenalan atau orientasi
Fase ini dimulai pada pertemuan dengan pasien:
-          Memberikan salam dan senyum pada pasien
-          Melakukan validasi (kognitif, psikomotor, afektif)
-          Memperkenalkan nama perawat
-          Menanyakan nama panggilan kesukaan pasien
-          Menjelaskan tanggung jawab perawat dan pasien
-          Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan
-          Menjelaskan tujuan
-          Menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan
-          Menjelaskan kerahasiaan
c)      Tahap kerja
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah:
-          Memberi kesempatan pada pasien untuk bertanya
-          Menanyakan keluhan utama
-          Memulai kegiatan dengan cara yang baik
-          Melakukan kegiatan sesuai dengan rencana
d)     Tahap Terminasi
Terminasi merupakan tahap yang sangat sulit dan penting dari hubungan terapeutik. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas atau pasien pulang. Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan perawat adalah :
-          Menyimpulkan hasil wawancara meliputi evaluasi proses atau hasil
-          Merencanakan tindak lanjut dengan pasien
-          Melakukan kontrak (waktu dan tempat)
-          Mengakhiri wawancara dengan baik

B.   Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketidakefektifan Komunikasi Terapeutik
Faktor yang mempengaruhi dalam berkomunikasi terapeutik terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal. faktor internal meliputi komunikator dalam hal ini perawat dan komunikannya adalah pasien. Faktor komunikator meliputi: pendidikan, lama bekerja, pengetahuan, sikap, kondisi psikologis. Faktor komunikan adalah : perkembangan, kondisi, stress hospitalisasi. Faktor eksternal meliputi; 1)sistem sosial, 2)saluran, 3)lingkungan (Aziz Alimul Hidayat, 2008).
Untuk mencapai komunikasi yang efektif seorang perawat di pengaruhi oleh kemauan dan kesadaran diri yang tinggi (Purba,2003).
1.    Faktor Pengetahuan
Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang sesuatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan (Surjasumantri,2003).
 Pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya (Irmayanti,2007).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,2007).
Pada dasarnya pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia, baik pengetahuan tersebut merupakan kesimpulan yang benar maupun pengetahuan dengan kesimpulan yang salah (keliru). Oleh karenanya pengetahuan bisa saja salah, akan tetapi pengetahuan yang hakiki sejatinya merupakan pengetahuan yang benar (Dea,2008).
            Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran yang melibatkan indra penglihatan, pendengaran, penciuman dan pengecapan. Pengetahuan akan memberi penguatan pada individu dalam setiap mengambil keputusan dalam berperilaku (Setiawati & Dermawan,2008).
            Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Karena dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Roger (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku di dalam diri orang tersebut terjadi proses berurutan yakni (Notoatmodjo,2007) :
-          Awareness (kesadaran) yakni orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu
-          Interest yakni orang mulai tertarik pada stimulus
-          Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
-          Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru
-          Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
Namun demikian, dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap diatas. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo,2007).
Pengetahuan yang dicakup dalam kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu (Notoatmodjo, 2003) :
1.       Tahu (know)
Diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2.       Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3.       Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4.       Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut.
5.         Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6.        Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian berdasarkan suatu kriteria yang telah ada.

2.    Faktor Sikap
a.      Pengertian Sikap
Sikap adalah keadaan mental dan syaraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah, respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya. Sikap itu dinamis dan tidak statis (Zanna dalam Sarwono,2002).
Menurut Nikels, sikap adalah suatu kecenderungan yang baik ataupun kurang baik secara konsekuen. Jadi sikap adalah suatu keadaan jiwa (netral) dan keadaan fikir (neural) yang dipersiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisir melalui pengalaman serta mempengaruhi secara langsung dan atau secara dinamis pada perilaku (Dharmesta dan Handoko,2000).
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Newcomb, salah seoarang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan lebih dapat dijelaskan lagi bahwa sikap merupakan reaksi terhadap objek lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo,2003).
b.      Komponen Sikap
Dalam bagian lain, Allport (1994) menjelaskan sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu ( Notoatmodjo,2003):
              a)    Kepercayaan (keyakinan) ide dan konsep terhadap objek
              b)    Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek
              c)    Kecenderungan untuk bertindak
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan berfikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting.

c.       Tingkatan Sikap
Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap juga terdiri dari berbagai tingkatan yaitu (Notoatmodjo,2003):
  1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau dan memperhatikan stimulus yang di berikan.
  1. Merespon (responding)
Dimana saat seseorang dapat memberikan jawaban apabila ditanya, Mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah satu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan dan mengerjakan tugas yang di berikan terlepas dari apakah pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.
  1. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah dengan orang lain adalah suatu indikasi sikap tingkatan ketiga.
  1. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang telah di pilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dengan menanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek dan secara tidak langsung dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden.

d.      Sikap Perawat (Stevens,2000)
                         a)            Sikap profesional perawat orang sakit meliputi :
1.      Keterlibatan
Perawat orang sakit harus merasa terlibat dengan pasien, keterlibatan dapat kita lukiskan sebagai perhatian yang aktif terhadap pribadi yang sehat maupun yang sakit terhadap pasien. Sebagai perawat tidak boleh mengambil sikap menunggu tapi harus aktif mengambil inisiatif.
2.      Respek
Keterlibatan perawat terhadap pasien harus berjalan bersama dengan respek (rasa hormat), sikap rasa hormat juga berarti menjaga jarak tertentu dengan pasien. Dari sikap kita harus terlihat bahwa kita tidak menganggap pasien sebagai teman tapi sebagai manusia.
3.      Empaty
Empaty  berarti ikut merasakan. Kemampuan untuk ikut merasakan situasi orang lain kita menempatkan diri kita sebagaimana orang.
4.      Kesungguhan
Kesungguhan dalam sikap dan tingkah laku perawat berarti bahwa orang tidak memerankan peranan yang dibuat-buat.

                        b)            Sikap perawat dalam komunikasi
Perawat hadir secara utuh (Fisik dan Psikologis) pada waktu berkomunikasi dengan pasien. Perawat tidak cukup hanya mengetahui tehnik komunikasi, tetapi yang penting adalah sikap atau penampilan dalam berkomunikasi. Sikap atau cara menghardik diri secara fisik sehingga dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik (Egan cit. Keliat,1992):
1.      Berhadapan
Sikap ini menunjukkan kesiapan dalam melayani dan mendengarkan keluhan pasien.
2.      Mempertahankan kontak mata
Sikap ini menandakan kita menghargai pasien dengan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi serta dapat dipercaya.
3.      Membungkuk kearah pasien
Sikap ini menunjukkan keinginan untuk menyatakan atau mendengarkan semua apa yang dikatakan pasien.
4.      Mempertahankan sikap terbuka
Pada saat berkomunikasi dengan pasien kita jangan melipatkan kaki atau menyilangkan tangan. Hal ini menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi dan siap membantu pasien.
5.      Tetap relaks
Tetap bersikap tenang, meskipun pada situasi tidak menyenangkan kita harus mengontrol ketegangan, kecemasan dan relaxasi dalam berkomunikasi dengan pasien.
Widayatun (1999), mengatakan bahwa komunikasi yang baik dari seorang perawat mampu memberikan kepercayaan dari pasien. Perlu ditekankan bahwa kesan lahiriah perawat mampu berbicara banyak, maksudnya mulai profil, tubuh, wajah terutama senyum dari perawat yang tulus, kerapian berbusana, sikap yang familiar dan yang lebih penting lagi cara bicara (komunikasi), sehingga terkesan bertemperamen bijak, kesemua ini mencerminkan seorang perawat yang berkepribadian.

3.     Faktor Kesadaran Diri
Kesadaran diri adalah kemampuan untuk berfikir tentang proses berfikir itu sendiri (Covey, 1997). Hal ini dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk memahami perasaan, perilaku  dan pikiran diri sendiri. Perawat harus dapat mengkaji perasaan, reaksi dan perilakunya secara pribadi maupun sebagai pemberi asuhan keperawatan.
Kesadaran diri merupakan faktor penting  untuk memperbaiki kekurangan yang terjadi selama berlangsungnya komunikasi. Kesadaran diri dapat timbul apabila ada pengetahuan dan kemauan yang memadai untuk meningkatkan kualitas komunikasi. Ini dapat dilakukan melalui belajar kepada pihak lain, mengenali diri dan sikap terbuka untuk menerima saran, kritik dan anjuran dari pihak lain. kesadaran ini menentukan pola interaksi yang dibangun antara komunikator dan komunikan, antara perawat dan pasien. Perawat harus mengenali faktor pribadi yang berkenaan dengan sikap, nilai, kepercayaan, perasaan dan perilaku. Perawat bisa berkomunikasi dengan baik bila mempunyai kesadaran diri yang baik (Mahmud Machfuedz,2009).
Kesadaran diri dan perkembangan diri perawat perlu ditingkatkan agar penggunaan diri secara terapeutik dapat lebih efektif. Marisson dan Burnand (1991) menyatakan, “kecuali kita mengembangkan keterampilan untuk menjadi sadar diri, kita bias kehilangan kemampuan untuk menjadi orang lebih reflektif”. dengan tehnik reflektif pada apa yang diungkapkan pasien, sebetulnya kita juga merefleksikan apa yang sedang kita lakukan. Melalui refleksi itulah kita menyadari diri kita.
Perawat sebagai instrument dalam komunikasi terapeutik harus mampu mengenal pribadinya dengan baik. kesadaran ini diharapkan dapat menjadikan perawat dalam menerima secara objektif perbedaan dan keunikan orang lain pasien. Kesadaran diri berpengaruh terhadap komunikasi terapeutik (Mahmud Machfuedz,2009).
  Ada dua konsep (teori) relevan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran diri yaitu Jauhari Window dan Icerberg model of human personality.
Jauhari Window
Jauhari Window dalam Stuart G.W (1998) menggambarkan perilaku, pikiran dan perasaan seseorang dalam empat kuadran.
1
Dirinya tahu Orang lain tahu
II
Hanya orang lain Yang tahu
III
Hanya Dirinya Yang tahu
IV
Dirinya dan orang lain tidak tahu

                    Gambar 2.1 : Konsep Jauhari window
-          Kuadran satu adalah kuadran yang terdiri dari perilaku, pikiran dan perasaan yang diketahui oleh individu dan orang lain disekitarnya.
-          Kuadran dua sering disebut kuadran buta karena hanya diketahui oleh orang lain sementara individu sendiri tidak menyadarinya.
-          Kuadran tiga disebut juga kuadran tersembunyi (hidden) karena hanya diketahui oleh individu sendiri. Tugas perawat amat penting untuk menggali atau mengungkap pengalaman pasien yang tersembunyi ini dalam rangka memecah masalah pasien.
-          Kuadran empat, individu tidak banyak dikenal orang lain, namun ia banyak mengetahui tentang orang lain sehingga tidak banyak orang mengenal dirinya. Orang ini bahkan tidak mngenal dirinya sendiri.
Kesadaran ini menentukan pola interaksi yang dibangun antara komunikator dan komunikan, antara perawat dan pasien. Dari kesadaran diri yang baik dapat tercipta hubungan terapeutik yang saling memuaskan (Mahmud Machfoed, 2009).
Kesadaran diri dapat ditingkatkan melalui tiga cara, yaitu :
-          Pertama, Dengan mempelajari diri sendiri, salah satu penyebab tidak efektifnya komunikasi perawat-pasien adalah karena perawat kurang menyadari tentang aspek yang ada dalam dirinya. Aspek diri yang berada di luar kesadaran seseorang akan berada di luar kendalinya. Hal ini dapat merusak interaksinya dengan orang lain. Karena itu seorang perawat perlu mempelajari dirinya agar dia tahu apa kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya (Kenworthy,2000).
-          Kedua, Dengan cara belajar dari orang lain. Banyak sekali sifat dan perilaku kita yang tidak kita sadari tetapi orang lain melihatnya atau merasakannya. Seorang perawat perlu mendengarkan semua pendapat atau komentar pasien, teman sejawat ataupun orang lain tentang dirinya dan berusaha mengubah dirinya kearah yang lebih baik. Penolakan terhadap kritik dan saran orang lain hanya akan merugikan diri sendiri karena tidak akan ada perubahan pada dirinya.
-          Ketiga, Dengan cara mengembangkan sikap terbuka. Keterbukaan adalah salah satu kriteria kepribadian yang sehat (Kozier, B. et al.,1991). Dengan terbuka pada orang lain seseorang akan merasa aman ketika berinterakasi karena tidak ada sesuatu yang disembunyikan.

Iceberg model of human personality
Model ini menekankan adanya sifat berlawanan dalam kepribadian seseorang (Geldard, D, 1998).
 

cinta
peduli

tidak peduli

benci                           pesimis


Gambar 2.2 : Konsep iceberg model of human personality

 Dengan memahami model ini menerima adanya “the hidden part of me”I dari dirinya maupun pasien. Sehingga ketika pasien mengungkapkan hal-hal yang jelek tentang dirinya, perawat bisa menerima dan mengatakan itu hal yang normal. Kesadaran diri ini sangat penting karena bagaimana anda memandang diri anda dan bagaimana orang lain memandang diri anda akan mempengaruhi interaksi anda secara keseluruhan (Rahmat, J,1996).

C.    Kerangka Teoritis
 


























Gambar 2.3 Kerangka Teoritis

BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN

A.    Kerangka Konsep
Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan komunikasi terapeutik menuurut teori Aziz Alimul Hidayat (2008) dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap, sedangkan menurut teori  Purba, (2003) dipengaruhi oleh kesadaran diri. Maka kerangka konsep dapat diigambarkan sebagai berikut :



Ketidak Efektifan Komunikasi Terapeutik
 
 








Gambar 3.1 : Kerangka Konsep




No
Variabel
Definisi operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
1
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketidakefektifan Komunikasi Terapeutik
Segala sesuatu yang diketahui tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketidakefektifan berkomunikasi Terapeutik

-
-
-
-
1
Pengetahuan
Segala sesuatu yang diketahui Mahasiswa tentang komunikasi terapeutik meliputi: pengertian, mamfaat, tujuan, jenis, fase-fase dan faktor penghambat komunikasi terapeutik
Menyebarkan kuesioner
kuesioner
-Tinggi
-Sedang
-Rendah
ordinal
2
Sikap
Sikap adalah suatu kecenderungan yang baik ataupun kurang baik secara konsekuen terhadap komunikasi terapeutik
Menyebarkan kuesioner
kuesioner
-Positif
-Negatif
ordinal
3
Kesadaran diri
Kesadaran diri adalah kemampuan untuk berfikir tentang proses berfikir itu sendiri terhadap komunikasi terapeutik
Menyebarkan kuesioner
kuesioner
-Tinggi 
-Rendah
ordinal
B.     Definisi Operasional



Gambar 3.2 : Definisi Operasional

C.    Pengukuran Variabel
Variabel pengukuran dilakukan sebagai berikut :
1.        Pengetahuan dapat dibagi menjadi 3 katagori (Notoatmodjo,2003) :
a.    Tinggi, jika jawaban responden benar 76%-100%. Dengan nilai 76-100
b.    Sedang, jika jawaban responden benar 56%-75%. Dengan nilai 56-75
c.    Rendah,jika jawaban responden benar <56%. Dengan nilai <56
2.      Sikap dalam berkomunikasi terapeutik dibagi atas 2 katagori yang diukur berdasarkan skala likert (Aziz Alimul Hidayat,2008) :
a.       Positif, jika jawaban responden memenuhi skor >25
b.      Negatif, jika jawaban responden memenuhi skor <25
3.    Kesadaran diri dalam berkomunikasi terapeutik dibagi atas 2 katagori yang diukur berdasarkan skala likert (Aziz Alimul Hidayat,2008) :
a.       Tinggi, jika jawaban responden memenuhi skor >20
b.      Rendah,jika jawaban responden memenuhi skor <20



BAB IV
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Dan Desain Penelitian
            Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk mendeskriptifkan atau memberi gambaran terhadap suatu objek yang diteliti (Arikunto,2002).
              
B.     Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di kampus Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie.

C.    Waktu Penelitan
Waktu penelitian ini telah dilaksanakan pada 22 sampai dengan 30 Juni Tahun 2012.

D.    Populasi dan Sampel
  1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan objek atau subjek dengan karakteristik tertentu yang diteliti (Azis Alimul Hidayat,2008).
Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa tingkat II dan III yang terdapat di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012 sebanyak 292 orang.

  1. Sampel
Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (A. Aziz Alimul Hidayat,2008).
Dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah Mahasiswa tingkat II dan III yang terdapat di Akademi Keperawatan Kabupaten Pidie. Maka, sampel diambil berdasarkan rumus  Slovin dalam Nursalam (2003) sebagai berikut :
            Keterangan:
n    =   jumlah sampel
N    =  jumlah populasi
d     = tingkat signifikan
jadi :
Dengan demikian sampel yang ditetapkan  dalam penelitian ini adalah sebanyak 75 Mahasiswa.                      
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian adalah cluster sampling yaitu digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas (Azis Alimul Hidayat,2008).
Jadi jumlah sampel Mahasiswa adalah 75/6 = 12,5 dan dibulatkan menjadi 13 Mahasiswa. Tingkat IIA diambil 12 Mahasiswa, tingkat IIB diambil 12 Mahasiswa, tingkat IIIA diambil 12 Mahasiswa, tingkat IIIB diambil 13 Mahasiswa, tingkat IIIC diambil 13 Mahasiswa dan tingkat IIID 13 Mahasiswa.
           
E.     Tehnik Pengumpulan Data
1)      Data primer
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh langsung dari responden dengan mengadakan wawancara dengan Mahasiswa Akademi keperawatan pemerintah kabupaten Pidie dengan menggunakan kuesioner.
2)      Data sekunder
Data yang diperoleh dari Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie.
                                                   
F.     Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian ini berupa data berisi variabel-variabel akan peneliti lakukan yang datanya tersebut diambil dari kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan. Jumlah soal yang digunakan dalam kuesioner yaitu 28 soal, terdiri dari variabel pengetahuan 10 soal, variabel sikap 10 soal, dan variabel kesadaran diri 8 soal.
G.    Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan secara manual, pelaksanaannya dilakukan sebagai berikut (Budiarto,2002):
a.       Editing, langkah ini peneliti mengoreksi dan meneliti kembali data yang telah dikumpulkan yang bertujuan untuk mengetahui kelengkapan data.
b.      Coding, memberi nilai atau angka tertentu terhadap kuesioner yang diajukan.
c.       Processing/Entry, Merupakan tahap memproses data agar dapat di analisis. Proses data dilakukan dengan cara meng-entry data dari koesioner ke paket program komputer.
d.      Cleaning, yaitu membersihkkan data yang dikumpulkan dan melakukan  pengecekan kembali data yang telah di-entry.
e.       Tabulating, tabulasi data yang telah lengkap disusun sesuai dengan variabel yang dibutuhkan lalu dimasukan kedalam tabel distribusi frekuensi. Setelah diperoleh hasil dengan cara perhitungan, kemudian nilai tersebut dimasukan ke dalam kategori nilai yang telah dibuat.
                                                                            
H.    Analisa Data
Analisa data dilakukan untuk masing-masing variabel yaitu dengan melihat persentase dari setiap tabel distribusi frekwensi dengan menggunakan rumus Budiarto (2002).
keterangan :
P : persentase
f  : frekwensi teramati
n : jumlah observer

I.       Penyajian Data
Data yang telah dikumpulkan diolah secara manual kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekwensi untuk dinarasikan. 
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A.      Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1.      Letak Geografis
Kampus Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie merupakan salah satu kampus Akademi keperawatan yang terletak di jalan Prof. A. Majid Ibrahim Tijue – Sigli Kabupaten Pidie yang berbatasan   dengan :
a.       Sebelah Utara berbatasan dengan Gudang Farmasi Pemerintah Kabupaten Pidie
b.      Sebelah Timur berbatasan dengan Rumah Sakit Umum Sigli
c.       Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan  Raya Banda Aceh - Medan
d.      Sebelah Selatan berbatasan dengan Rumah Sakit Umum Sigli
2.      Data Demografi
Jumlah Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie adalah sebanyak 442 Mahasiswa yang tediri dari 16 Ruang. Mahasiswa tahun 2009/2010 195 orang, tahun 2010/2011 97 orang dan tahun 2011/2012 150 orang. Dengan laki-laki 174 Mahasiswa dan perempuan 268 Mahasiswa.

3.       Fasilitas kampus
35
 
Kampus Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie memiliki tiga pudir, satu ruang Tata usaha, delapan ruang kuliah, satu ruang laboratorium praktek, satu perpustakaan, satu ruang laboratorium komputer, satu aula, satu lapangan futsal dan satu asrama putra.

B.       Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan mulai tanggal 22 s/d 30 Juni 2012 di kampus Akademi Keperawatan pemerintah Kabupten Pidie, untuk melihat dapat disajikan dalam tabel distribusi di bawah ini :
a.      Pengetahuan
Tabel 5.1
Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan mahasiswa tentang gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan komunikasi terapeutik  di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie tahun 2012

No
Pengetahuan
Frekuensi (f)
Persentase (%)
1
Tinggi
4
5.3
2
Sedang
31
41.3
3
Rendah
40
53.4
Jumlah
75
100
            Sumber : data primer diolah tahun 2012
Berdasarkan tabel 5.1 dari 75 responden yang penulis teliti di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie tentang pengetahuan komunikasi terapeutik mayoritas berada pada katagori rendah yaitu 40 responden (53.4%), dan minoritas berada pada katagori tinggi yaitu 4 responden (5.3%).
b.      Sikap
Tabel 5.2
Distribusi frekuensi berdasarkan sikap mahasiswa tentang gambaran faktor- faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan komunikasi terapeutik  di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie tahun 2012

No
Sikap
Frekuensi (f)
Persentase (%)
1
Positif
            59
78.7
2
Negatif
16
21.3
Jumlah
75
100
Sumber : data primer diolah tahun 2012
          Berdasarkan tabel 5.2 dari 75 responden yang penulis teliti di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie tentang sikap dalam berkomunikasi terapeutik mayoritas berada pada katagori positif yaitu 59 responden (78.7%).
c.       Kesadaran diri
Tabel 5.2
Distribusi frekuensi berdasarkan Kesadaran Diri mahasiswa tentang faktor - faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan komunikasi terapeutik  di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie tahun 2012

No
Kesadaran diri
Frekuensi (f)
Persentase (%)
1
Tinggi
56
74.7
2
Rendah
19
25.3
Jumlah
75
100
Sumber : data primer diolah tahun 2012
Berdasarkan tabel 5.3 dari 75 responden yang penulis teliti di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie tentang kesadaran diri dalam komunikasi terapeutik mayoritas berada pada katagori tinggi yaitu 56 responden (74.7%).
 
C.      Pembahasan
1.      Pengetahuan
Dari hasil penelitian di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012 didapatkan bahwa dari 75 , 4 responden (5.3%) berpengetahuan tinggi tentang komunikasi terapeutik dengan pasien, 31 responden (41.3%) berpengetahuan sedang dan 40 responden (53.4%) berpengetahuan rendah.
Menurut Indrawati (2003) komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan  secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.
Menurut Setiawati & Dermawan (2008) Pengetahuan adalah hasil dari proses pembelajaran yang melibatkan indra penglihatan, pendengaran, penciuman dan pengecapan. Pengetahuan akan memberi penguatan pada individu dalam setiap mengambil keputusan dalam berperilaku.
Menurut Aziz Alimul hidayat (2008) Semakin bagus pengetahuan yang dimiliki seseorang semakin mudah menerima informasi sehingga penggunaan komunikasi terapeutik akan semakin efektif.
Berdasarkan asumsi penulis bahwa di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie tingkat pengetahuan mahasiswa tentang komunikasi terapeutik dengan pasien adalah katagori rendah.

2.      Sikap
Dari hasil penelitian di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012 didapatkan bahwa dari 75 , 59 responden (78.7%) memiliki sikap positif dalam komunikasi terapeutik dengan pasien dan 16 responden (13.3%) memiliki sikap negatif.
Menurut Zanna dalam Sarwono (2002) sikap adalah keadaan mental dan syaraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah, respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya. Sikap itu dinamis dan tidak statis.
Menurut Notoatmodjo (2003) sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yaitu :
                            d)        Kepercayaan (keyakinan) ide dan konsep terhadap objek
                             e)        Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek
                             f)        Kecenderungan untuk bertindak
Menurut Egan cit. Keliat dalam Arwani (2002) Perawat tidak cukup hanya mengetahui tehnik komunikasi, tetapi yang penting adalah sikap atau penampilan dalam berkomunikasi. Sikap atau cara menghardik diri secara fisik sehingga dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik.
Berdasarkan asumsi penulis bahwa di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie sikap mahasiswa dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasien adalah katagori positif.

3.      Kesadaran diri
Dari hasil penelitian di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012 didapatkan bahwa dari 75 , 56 responden (74.7%) memiliki kesadaran diri tinggi dalam komunikasi terapeutik dengan pasien dan 19 responden (25.3%) memiliki kesadaran diri yang rendah.
Menurut Covey dalam Sujono (2009) Kesadaran diri adalah kemampuan  untuk berfikir tentang proses berfikir itu sendiri. Hal ini dapat diartikan sebagai kemampuan individu untuk memahami perasaan, perilaku  dan pikiran diri sendiri. Perawat harus dapat mengkaji perasaan, reaksi dan perilakunya secara pribadi maupun sebagai pemberi asuhan keperawatan.
Menurut Mahmud Machfuedz (2009) Kesadaran diri merupakan faktor penting  untuk memperbaiki kekurangan yang terjadi selama berlangsungnya komunikasi. Kesadaran diri dapat timbul apabila ada pengetahuan dan kemauan yang memadai untuk meningkatkan kualitas komunikasi. Ini dapat dilakukan melalui belajar kepada pihak lain, mengenali diri dan sikap terbuka untuk menerima saran, kritik dan anjuran dari pihak lain. kesadaran ini menentukan pola interaksi yang dibangun antara komunikator dan komunikan, antara perawat dan pasien. Perawat harus mengenali faktor pribadi yang berkenaan dengan sikap, nilai, kepercayaan, perasaan dan perilaku. Perawat bisa berkomunikasi dengan baik bila mempunyai kesadaran diri yang baik.
Berdasarkan asumsi penulis bahwa di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie  tingkat kesadaran diri mahasiswa dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasien adalah katagori tinggi.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A.   Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah di uraikan tentang gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan komunikasi terapeutik dengan pasien pada Mahasiswa Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Pidie Tahun 2012, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Pengetahuan responden mayoritasnya adalah rendah yaitu sebanyak 40 responden (53,3%). Dari hasil penelitian dapat kita simpulkan bahwa pengetahuan sangat mempengaruhi ketidakefektifan dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasien.
2.      Sikap responden pada umumnya positif yaitu 59 responden (78.7%). Sikap yang positif merupakan modal dalam berkomunikasi terapeutik dengan pasien.
3.      Kesadaran diri responden pada umumnya tinggi yaitu 56 responden (74.7%). Dari hasil penelitian dapat kita simpulkan bahwa untuk mencapai komunikasi yang efektif seseorang dipengaruhi oleh kemauan dan kesadaran diri yang tinggi.

41
 
B.   Saran                                     
1.      Diharapkan agar Institusi Pendidikan, khususnya DIII Keperawatan untuk memasukan program praktek komunikasi terapeutik dalam kegiatan pembelajaran praktikum sehingga setelah menyelesaikan pendidikan, mahasiswa mampu mengaplikasikan komunikasi terapeutik dalam praktek keperawatan.
2.      Diharapkan agar Mahasiswa dapat menguasai atau menanamkan kemampuan komunikasi terapeutik dengan pasien secara efektif sehingga tercipta atau terjalin hubungan terapeutik dengan baik.
3.      Diharapkan agar peneliti yang akan datang dapat mengembangkan hasil penelitian ini dengan menambah jumlah variabel yang dapat berpengaruh terhadap ketidakefektifan komunikasi terapeutik seperti pendidikan, pengalaman, kondisi psikologis dan lain sebagainya.

 DAFTAR PUSTAKA

Abdul Nasir,et al. 2011. Komunikasi dalam Keperawatan : Teori dan Aplikasi. Salemba Medika : Jakarta

Arikunto. 2005. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta : Jakarta

Arwani. 2002. Komunikasi dalam keperawatan. EGC : Jakarta

Budiarto. 2002. Biostatistik untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. EGC : Jakarta

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika : Jakarta

Machfoedz, Mahmud. 2009. Komunikasi Keperawatan (Komunikasi Terapeutik). Gambika : Yogyakarta

Mundakir, 2006. Komunikasi Keperawatan, Aplikasi Dalam Pelayanan. Graha Ilmu : Yogyakarta.

Notoatmodjo, S., 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-Prinsip Dasar.: Rineka Cipta, Jakarta.

__________, 2007. Promosi Kesehatan Masyarakat Dan Ilmu Perilaku, PT. Rineka Cipta : Jakarta

Nursalam. 2007. Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Professional. Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika

Riyadi, sujono & Purwonto, Teguh.2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha Ilmu

Rochana, Nana. (2005).Kemampuan Perawat dalam Menerapkan Komunikasi Terapeutik Terhadap Anak di Bangsal Anak Rumah Sakit Pemerintah di Semarang. Skripsi. Universitas Diponegoro

Suryani, 2005. Komunikasi Terapeutik : Teori dan Praktek, Jakarta. EGC
                                                                                                                         
Wulan, kencana : Hastuti, M. 2011. Pengantar Etika Keperawatan : Paduan Lengkap Menjadi Perawat Professional Berwawasan Etis. Jakarta : Prestasi Pustakara

Indrawati, 2003, Tentang komunikasi terapeutik. www/wikepedia.orng.com.

Purba Marlindawani Jenny, 2003. Komunikasi Dalam Keperawatan. www.one.indoskripsi.com. di akses 22 April 2012
                               
Rahayu, Sri. 2010. Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Pasien Anak dan Orangtua  http://www.ksh.co.id/newsDetail.php, di akses 22 April 2012
di akses 22 April 2012